Itu adalah kata yang paling ingin aku umumkan keseluruh dunia Indonesia saat pertama kali melihat makhluk-makhluk ajaib di kelas baruku. Aku tercekat bin terpesona begitu tahu kalau hampir sepuluh besar dari tiap-tiap kelas sepuluh dikumpulkan di kelas sebelas IPA dua ini. Kelas yang paling dekat dengan ruang kepsek. Yang paling disoroti guru karena pendahulunya yang emang mantap-mantap. Yang katanya sih meraih rata-rata tertinggi tiap semester. Juga kelas paling alim dengan manusianya yang nggak pernah neko-neko. Dan yang…yang… lainnya. Yang pastinya, aku nggak yakin kalau aku masuk kategori yang aku sebutin barusan walaupun pada kenyataannya aku ditempatkan di kelas mengerikan itu.
Let's be a friend!!!
Cari Blog Ini
Reminder Named Pipit
Itu adalah kata yang paling ingin aku umumkan keseluruh dunia Indonesia saat pertama kali melihat makhluk-makhluk ajaib di kelas baruku. Aku tercekat bin terpesona begitu tahu kalau hampir sepuluh besar dari tiap-tiap kelas sepuluh dikumpulkan di kelas sebelas IPA dua ini. Kelas yang paling dekat dengan ruang kepsek. Yang paling disoroti guru karena pendahulunya yang emang mantap-mantap. Yang katanya sih meraih rata-rata tertinggi tiap semester. Juga kelas paling alim dengan manusianya yang nggak pernah neko-neko. Dan yang…yang… lainnya. Yang pastinya, aku nggak yakin kalau aku masuk kategori yang aku sebutin barusan walaupun pada kenyataannya aku ditempatkan di kelas mengerikan itu.
The Puzzle Within
Hobiku itu selalu buat karakter tokoh sebelum aku bikin cerita novel.
Nah....Hayagawa Akira (Uehara Akira) dan Hayagawa Keiichi ini adalah salah satu tokoh di novel The Puzzle Within yang lebaran kemaren selesai aku tulis. Hahaha...:D
Meskipun teman-temenku pada bilang kalau Keiichi nggak sekeren yang mereka bayangin tapi buatu Kei yang ada di otakku tetep keren kok
Bercerita tentang Akira, siswi Hakusensa yang terpaksa menikah dengan Hayagawa Keiichi, cowok pindahan dari Amerika, demi menyelesaikan deretan kasus penculikan dan pembunuhan yang melibatkan dirinya. Menguak rahasia tentang orang tua Akira, hubungan dengan ayah Kei, dan sahabat baik Akira, Obayashi Sano.
Aku nggak tau mau aku masukin tipe apa novel ini. Dari komennya temen-temenku sih bisa masuk romance, sci-fic, thirller, misteri. :D.....waaa....perjuangan banget waktu aku menulisnya. Kebut-kebutan sama target Ramadhan, ngurusin urusan rumah (yah, karena tiap kali aku pulang dari rantau aku selalu ngantiin posisi ibuku jadi ibu rumah tangga), jadwal ngunjungin rumah sodara, buber SMP--SMA. Hahahah...Ow ya...jadwal aku remedial semester 1 juga. Waaa....ngak nyangka lho bisa rampung tepat waktu. Yah, walaupun rampungnya belum sempurna. Masih banyak typo, edit sana-edit sini.... But.... Ketika aku memposting mini curhatanku ini...Alhamdulillah...udah 80% dah. Hehehe....
Yup....ditunggu aja perjuanganku buat nyariin 'anak'ku ini rumah baru. Heheheheeheh.............
Love Farmasi
Ehm....waktu itu ada upgradingnya BEM...karena aku telat...jadi dapet tempat duduk paling belakang deh. Trus karena temn-temenku pada rame sendiri aku nggak terlalu denger apa yang pembicaranya omongin (ngantuk juga sih....:D). Nah jadinya nyorat-nyoret kertas nggak jelas gitu buat nahan ngantuk...jadinya malah kayak gini...hahaha
Kenapa Menangis?
Malam sebelumnya, sebelum aku memposting tulisan ini maksudnya, aku menangis sendirian di kamar kosku yang full dengan barang-barang serba biru. Meski temen-temenku sudah menanyakan kenapa aku menangis pun sampai sekarang aku masih menjawabnya dengan gelengan.
"Kamu homesick pa?"
Aku menggeleng. Lebih dari homesick sepertinya Entahlah...tapi aku hanya ingin menangis.
Entah kenapa malam itu aku merasa lelah sekali. Lelah dengan semua hal yang sudah aku jalani selama hampir delapan bulan ini aku lakoni sebagai seorang mahasiswa. Aku menatap setumpuk laporan yang menggunung dan belum aku rampungkan. Bahan presentasi yang belum aku sentuh dan callingan dari temen-temen SMA yang sedang berjuang bersama menyelamatkan temen kami di Bandung sana. Huf....
Jujur saja...bukan karena itu aku menangis. Bukan karena laporan praktikum yang makin membabi buta atau materi kuliah yang musti ditambal sana sini. Lebih dari itu. Aku sering kok dikejar-kejar deadline lebih dari itu. Aku sudah pernah ngrasain gimana depresi buat proposal hari Jum'at dan dikumpulkan ke ketua di hari sabtu pada minggu yang sama. Atau buat skrips komik di hari yang sama dan dikumpulkan di hari yang sama pula. Tapi entahlah kenapa sekarang semanya jadi berbeda.
Malam itu semua keluh kesahku keluar. Cuma Allah yang tahu seperti apa rasanya hati ini. Cuma Dia yang mengerti. Malam itu semua sesak aku keluarkan. Entah mungkin saking capeknya nangis aku sampe jatuh terlelap.
Malam itu aku kembali berkemelut dengan pikiranku sendiri. 2 tahun lalu, saat masih duduk di bangku SMA, aku jatuh koma, bisa dibilang gitu karena aku bahkan aku tak bisa ingat apa yang terjadi hari-hari itu. Mengalami sedikit amnesia saat bangun dan kehilangan separuh saraf motorik hingga berbulan-bulan. Hal yang paling kutakutkan saat itu adalah....apakah aku akan mati? Malam itu entah kenapa terlintas bayangan yang sama. Bagaimana kalau tiba-tiba dipanggil Yang Maha Kuasa?
Aku melihat lagi buku impianku yang sudah tercoret kesana-kesini. Melihat lagi apa yang ada didalamnay membuatku benar-benar ingin menangis. Tahun ini sudah separuh lebih impianku yang tercapai. Seharusnya aku berjingkrak heboh kan? Tapi entah kenapa aku makin merasa sesak.
Sobat, pernahkah kalian merasa bahwa impian-impian yang kita tuliskan itu adalah sebuah doa. Doa menghiba pada Allah agar Dia mengabulkannya. Dan ketika impian itu tercoret dari listnya bukankah itu artinya Dia mengabulkannya?
Aku hanya merasa, Allah itu sungguh sangat baik, sangat rahiim bahkan saat manusia tidak meminta dia tetap memberi yang mereka butuhkan. Kalau menurutku...hanay menurutku. Dia begitu baik ketika sudah memberi kesempatan hidup padaku. Lahir dari orang tua beda rhesus mungkin hal yang lumrah bagi sebagian orang. Tapi buat orang yang mengerti dunia genetis hal itu bukan hal gampang.
Diberi kehidupan sampai dititik ini, aku sungguh sangat mensyukurinya. Tapi ketika malam itu aku kembali mengingat apa yang sudah aku lakukan, itu membuatku kembai memnagis.
Aku pernah membaca sebuah sinopsis buku "Ya Allah, kami sedang sibuk." Itu judulnya (kalau ngga salah inget sih). Malam itu ketika tulangku rasanya dilolos satu persatu aku mencoba mengingat lagi apa yang tertulis dibuku itu.
Well, berapa kali manusia meminta kortingan pada-Nya. Oke...aku bicara masalah mahasiswa di fakultasku (karena aku hidup di lingkungan itu). Tidak ada namanya malam tanpa laporan yang menggunung, tapi adakah satu malam saja untuk malam lembur dengan al-quran? Aku sungguh memnagis untuk itu. Aku selalu minta kortingan saat lelah ini menerpa. "Ya Allah, aku capek banget....murajaahnya besok aja ya..."
Berapa menit yang dikerjakan untuk membaca al-quran dan berapa jam waktu yang digunakan untuk menulis laporan? Aku (atau mungkin ada yang lain yang setuju) selalu minta kortingan "Ya Allah....laporanku banyak banget, ngajinya 3 lembar aja ya....:-(.
Atau ketika adzan isya bertalu-tau dari masjid sebelah. "Bentar Ya Allah...nanggung nih laporan."
Aku benar-benar menangis untuk itu. Ya Rabb, Kau bahkan tidak akan menanyakan kenapa kami begitu betah lembur tanpa tidur dengan laporan, tapi saat ada SMS buat mabit selalu ditolak hanya karena alasan yang sama. Laporan.
Ada seseorang yang bilang padaku untuk selalu memperbaiki niat semuanya karena Allah. Tapi ya Allah, ketika semua laporan ini cuma copas dari master-master sebelumnya...lantas niat itu apa Engkau meridhainya? Kalau tidak...lantas apa yang kami lakukan ini? Aku menangis untuk itu. Atau sekarang hatiku yang mulai membatu? :'(
Tentang sebuah SMS 2
Malam ini awalnya aku pingin upload gambar...tapi berhubung koneksiku nggak lumayan sip, aku pingin cerita aja deh... Lanjutin cerita lalu.
Cerita ini masih bermula saat aku dapet sms dari adik kelas yang tanya : "Mbak dulu masuk UGM lewat jalur apa?"
Awalnya aku mau jawab: "Lewat jalur Solo-Jogja deg :D" tapi berhubung kayaknya anak yang SMS aku itu tipikal anak yang serius aku urungkan tuh niat. "Ehem...undangan deg."
SNMPTN Undangan....kalau inget kata itu, ingatanku kembali melayang hari-hari setahun lalu.
Begitu selesai ngisi formulir buat undangan satu hal yang langsung aku cari adalah buku-buku soal SNMPTN.Udah aku buru tuh dari versi loaknya sampai versi gressnya. Beda banget sama temen-temenku yang sama-sama anak undangan. Mereka masih bisa ongkang kaki sambil nungg penguman.
Ya gimana ya...masalahnya aku udah terlanjur mikir kalau aku nggak bakalan keterima sih jadi ya mau nggak mau aku musti berjuang dengan keringat dan air mata (halah) di jalur tulis.
Sambil nyiapain diri buat UAS yang ada di depan mata, aku siapain waktu khusus buat ngerjain soal SNMPTN yng ternyata bikin urat kepalaku keluar semua. Idih gilak..bener nih kata guru matematikaku kalau nih soal emang bertujan mendepak orang. --" Apalagi buat orang yang sama sekali nggak betah dengan yang namanya bimbel...beuh...yang namanya menghadapi godaan buat nyingkirin buku-buku SNMPTN dari buku gambar tuh udah kayak mendaki Everest kayaknya.Pokoknya setiap kali aku sukses ngerjain sekian soal dan nggak ngelirik buku gambar rasanya udah kayak dapet medali emas olimpiade Don Boscho. Wahahahah....
Tapi jujur nih kalau sekarang aku disuruh ngulang ngejawab soal SNMPTN udah rampal semua tuh metode yang dulu (sempet) aku hafal. :D kwkwkwkw.
Dan singkat cerita saat hari pengumuman UAS berlangsung paginya, pengumuman SNMPTN Undangan yang semula tanggal 26 Mei diajuin jadi tanggal 24 Mei jam 17.00. Apa nggak sakit perut coba? Paginya udah diare gara-gara pengumuman UAS, masih ditambah sorenya di PHP-in sama server SNMPTN Undangan yang nggak konek-konek. Yah...oke dah...walaupun aku udah positif yakin nggak bakalan diterima tapi nggak tau kenapa harapan itu masih tetap ada. Rasanya kok ya keren aja klo sampe keterima jalur undangan. Heheheh....
Naas nih buat aku. Modemku nggak jalan. Ditambah kabar dari temen-temenku yang pada daftar di UNS yang teriak-teriak kegirangan lewat telfon kalau mereka keterima. Udah bikin tambah konstipati nih. Sebenernya bukan cuma maslah keterima atau nggak sih yang aku pikirin, tapi juga pemilihan ketua karang taruna ntar malem. :D Akhirnya aku minta deh sama salah satu temenku buat bukain pengumuman punyaku. Dan satu hal yang membuatku shock plus ternganga plus...entah deh gimana aku musti deskripsiin.
"Eh...Mil...selamat ya.Keterima nih. Cie yang anak UGM."
"Eh...masa' aku keterima di pilihan kedua sih? Bukane biasanya pilihan pertama universitas pertama ya?"
"Pilihan kedua gimana tho mil. FARMASI MIL, Farmasi!"
"Halah...serius lah....nek aku gak keterima ya bilang aja."
"Wech dibilangin kok."
"Kau serius."
"Iya mila...."
Dan begitu koneksi modemku berhasil tersambung aku langsung ternganga. Emang sih kata yang pertama kusebut ya alhamdulillah cuma kalimat sehabis itu yang bikin aku ketawa kalau mengingatnya. "Lho...kok bisa keterima ya?" :D










