Di sini, tanah nun jauh dari kerlip kota
Membingkai ufuk dan rimbun hutan
belantara
Tapi ini juga tanah Tuan, tempat Tuan
melebarkan sayap-sayap kekuasaan
Tuan, tahukan anda?
Tanah disini digorongi tikus hutan
Melenyapkan gabah dan jagung kami tanpa
sisa
Membuat kami yang sudah miskin makin
merana
Tertatih dalam pekat kehidupan
Tuan....entah apa lagi yang mau di kata
Tanah ini dipenuhi kilau emas
Tapi kami memuaskan diri dengan hampa
arang
Berharap ia akan berubah jadi intan
Tuan, kami tidak akan tahu rasanya duduk
di singgasana
Kami
pun tidak mau tahu bagaimana rasanya
Itu urusan Tuan...
Tapi Tuan...sudikah kiranya Tuan turun
sejenak
Menyapa kami yang duduk menghamba demi
tanah ini
Demi tanah yag mulai kerontang akan asa
Tanah yang mulai kering dari
sumber-sumber keadilan
Tuan...apa singgasana itu terlalu nyaman
Sampai lupa kalau singgasana itu yang
akan menuntutmu kelak di akhirat
Apa singgasana itu membuatmu lupa ...
Lupa bahwa kami juga pernah menggiringmu sampai disana
Tuan, pinta kami sederhana...
Tengoklah kami yang nun jauh di ujung
tanah ini
Yang menulis setiap detk kehidupan
dengan kelam arang
Yang berebut pangan dengan tikus hutan
Tuan, asa ini kami titipkan
Untukmu yang duduk di singgasana...
Tidak muluk, hanya sebuah tatapan
kebijakan pada kami
Bukan perlakuan tiran dan diktator...
Tanah ini biarlah mengering seperti
ini...
Asal kau tidak memutus sumbernya, kami
akan mencoba bertahan..
Dalam detak-detak asa yang entah pada
siapa dan sampai kapan kami gantungkan...
0 komentar:
Posting Komentar